'Couture for Culture' (www.thedramaturge.com)

#2 Pendekatan Teori

Kaitan Emotional Design dan Estetika terhadap Pengembangan Produk (Brand)

 

Emotional Design

Berkembangnya zaman dan gaya hidup modern saat ini telah mengakibatkan pergeseran budaya serta mempengaruhi cara berpikir masyarakat dalam menilai tingkat kebutuhan terhadap sebuah barang dan jasa. Berdasarkan teori Maslow, manusia memiliki empat tingkatan kebutuhan, dimulai dari kebutuhan pokok (basic needs), kebutuhan akan rasa aman (needs of secure), self-esteem, dan aktualisasi diri. Salah satu perubahan yang terjadi adalah bergesernya tingkatan kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan barang pokok (basic needs), misalnya pada produk pakaian yang telah bergeser lebih dari sekedar kebutuhan pokok (penutup tubuh) menjadi suatu kebutuhan aktualisasi diri maupun sebagai bentuk penghargaan terhadap lingkungan sosial pemakainya. Pergeseran tersebut membuat proses penilaian, pemilihan, hingga proses pengambilan keputusan oleh konsumer tidak hanya didasarkan pada kebutuhan fungsi barang (fisik), lebih dari itu dapat melibatkan kondisi emosional seseorang, seperti nilai atau norma yang berlaku di masyarakat, nilai simbolik (signifikansi) suatu barang, realitas, serta kebiasaan, Martinus (2012), dimana tercermin pada produk yang akan dibeli. Kondisi seperti itu juga membuat pihak industri termasuk desainer lebih menekankan pentingnya user-centered design (fokus terhadap konsumen atau pengguna produk) dari pada business-centered design. Namun demikian dalam perkembangannya user-centered design terus mengalami berbagai perubahan seperti bergantinya fokus penelitian yang berawal dari perilaku konsumer dan kognisi (users’ behavior and cognition), menjadi pengalaman konsumer yang melibatkan faktor emosi (users’ affective experience), Desmet&Hekkert (2007). Emosi dalam desain dapat menjadi kunci kesuksesan pada sebuah produk, hal ini dikarenakan emosi memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap mood atau minat konsumen dalam menentukan barang yang akan dibelinya.  Maka tidak mengherankan apabila tren yang  berlangsung saat ini dalam penelitian desain adalah menghubungkan berbagai disiplin ilmu diantaranya yang paling penting adalah estetika, pemasaran, ergonomi, dan kemampuan dari segi teknis (engineering skills).

Product Experience

Product experience adalah pengalaman personal user (konsumen) yang berkaitan dengan interkasinya terhadap sebuah produk. (human-product interaction). Dalam interaksi tersebut tidak hanya menyinggung tentang interaksi yang berkaitan dengan instrumen, namun juga non instrumental, interaksi non fisik. Interaksi dengan kaitannya pada instrumen contohnya adalah kemarahan seseorang sebagai akibat dari tidak berfungsinya remote control pada televisi. Perasaan user yang tidak berhubungan langsung pada fungsi sebuah produk, contohnya perasaan bangga karena memiliki mobil mewah dan berkilap. Sedangkan interaksi non fisik kaitannya pada memori dalam penggunaan sebuah produk contoh nya adalah menghindari lift karena pernah terjebak di dalamnya. Berdasarkan penjelasan atas maka dapat disimpulkan bahwa product experience erat kaitannya dengan  afektif sesorang, yaitu pengalaman subjektif yang dirasakan seseorang seperti baik-buruk maupun menyenangkan dan tidak menyenangkan. Berikut adalah bagan afektif sesorang dengan kaitannya pada emosi;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam teori yang dikeluarkan Hekkert (2006) ada tiga jenis jenis komponen atau level yang mempengaruhi product experience yaitu; perasaan terhadap estetika sebuah produk, makna produk, dan respon emosi.

Pengalaman Estetika

Dalam tingkatan estetika, pengalaman dikaitkan dengan  rasa senang yang muncul dari sensor otak manusia, hal tersebut dapat ditimbulkan oleh produk yang  memiliki penampilan menarik (bagus), memiliki suara yang menyenangkan, lembut di sentuh, atau dapat juga produk dengan bau yang enak dicium (harum).

Dalam penelitian product experience, komponen estetika memiliki fokus terhadap  visualisasi produk, namun menurut Overbeeke dan Wensveen
(2003) konsep estetika digunakan untuk merujuk pada keindahan yang dialami user dalam menggunakan sebuah produk atau pengalaman ketikasecara fisik berinteraksi dengan produk. Dengan demikian walaupun berkaitan dengan pengalaman estetika seseorang konsep ini memiliki spesifik fokus pada taktil dan kinestetik, bukan pada visualestetika.

Kaitan Estetika dan Emosi

Suatu  pengalaman estetika dapat mempengaruhi pengalaman emosional seseorang, hal ini dikarenakan pengalaman estetis melibatkan rasa senang-tidak senang selain itu para kebanyakan konsumen termotivasi untuk mencari produk yang mendatangkan kesenangan dan menghindari produk yang dapat membuat orang sebal. Dalam appraisal theory, nilai pengalaman estetika termasuk dalam intrinsic pleasentness component  yaitu penghargaan terhadap suatu benda atau produk yang melibatkan rasa senang sehingga memunculkan hasrat terhadap sebuah objek ataupun rasa tidak senang yang menyebabkan user menghindari atau meninggalkan produk tersebut. Pengalaman yang meunculkan hasrat maupun perasaan menghindari tersebut sangat erat kaitannya terhadap keputusan user dalam membeli produk, dan tentu saja akan mempengaruhi ’taste’ seorang konsumen.

Emotional Branding

Melalui penjabaran tersebut emosi maupun estetika erat kaitannya dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan desain maupun membangun label (brand) sebuah produk, pentingnya membangun brand lewat pengembangan hubungan emosional telah didukung baik oleh konsumen (Pawle & Cooper 2006, Lindstrom 2005, Woods 2004) maupun di antara para pebisnis (Lynch & de Chernatony 2004). Belakangan ini, banyak pelaku industri yang memanfaatkan konsep emosi dalam pengembangan brand mereka dimana menciptakan semacam hubungan yang lebih baik dan dekat kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan kompetitif serta meningkatkan kesetiaan (loyalty). Maka dari itu pelaku industri berusaha agar konsumen tidak hanya memiliki sikap positif terhadap brand mereka atau kecenderungan membeli barang saja, tapi melangkah lebih dalam pada tingkat emosional. Emotional branding dapat membangun hubungan yang kuat antara brand dengan konsumen nya karena emosi menjadi alat penggerak yang paling efektif dalam memotivasi para pelanggan.

Brand itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu komoditas atau jasa yang dikemas dalam persona emosional seseorang, kemudian dipatenkan dengan sebuah image maupun logo. Persona emosional adalah sebuah pengalaman sensoris yang diciptakan lewat desain konseptual dari sebuah brand. Suatu brand muncul ketika perusahaan berinteraksi dan membangun hubungan dengan konsumen dimana saat ketertarikan muncul seseorang akan mengingat merk tersebut dan menjadikannya sebagai referensi untuk kehidupan sehari-hari mereka. Emotional branding membangun hubungan yang kuat antara brand dan konsumen, sehingga pencipta brand harus dapat mengembangkan hubungan yang berarti dengan konsumen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s